Cerita Sore dari Lombuyan
Lombuyan, 16 Mei 2013
sore ini mungkin salah satu dari belasan sore yang indah sebelumnya. Setelah hari lalu pelangi datang membingkai pemandangan sekitar. Membingkai Laut, membingkai sabana, membingkai pinus merkusi. Karang-karang purba yang terangkat bersamaan jutaan tahun lalu, gersang. Hanya ilalang saja yang ada.
Lembah ilalang itu bernama Suaka Alam Lombuyan. Letaknya di atas punggungan Salodik, angin senja menyapa mesra. Goyangan rumput memberi arti tentang perjuangan hidup. Untuk hidup tak harus mati, dan hidup tak sekedarnya.
Awan biru bergumpal-gumpal, bersaing sehat dengan warna laut yang membias corak vertikal. Potret lanscape dari kejauhan, memang karya-Mu jauh melebihi titah ciptaan-Mu.
Menara pandang mencoba membantu, menambah nikmat pemandangan yang nikmat. Melihat ribuan mil sabana yang terbentang, dengan titik-titik kecil. Binokuler yang membawa pemandangan jauh, kami melihat sapi-sapi. Kami melihat tiang listrik yang berjajar mengecil, mengikuti hukum perspektif. ini kebesar-Mu. Grace !

